Review The Uprising (2026)

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on GET LINK for destination
Congrats! Link is Generated

Sutradara spesialis ketegangan realistis, Paul Greengrass—yang terkenal lewat trilogi Jason Bourne dan Captain Phillips—kembali ke layar lebar dengan proyek ambisius berlatar sejarah abad pertengahan, The Uprising (2026). Dirilis resmi di bioskop pada **11 September 2026**, film aksi-drama historis ini memasang aktor peraih nominasi Oscar, Andrew Garfield, sebagai ujung tombak penceritaan.

Bukan sekadar film perang pedang biasa, The Uprising mengangkat salah satu peristiwa paling berdarah dan krusial dalam sejarah Inggris: Pemberontakan Petani (*Peasants' Revolt*) tahun 1381. KopiFlix akan mengupas tuntas apakah kolaborasi antara gaya penyutradaraan dokumenter khas Greengrass dan akting emosional Garfield berhasil melahirkan mahakarya sejarah baru, atau justru menjadi eksperimen yang timpang.

Sinopsis: Amarah Kaum Jelata Pasca-Wabah Kematian Hitam

Berlatar waktu di Inggris pada tahun 1381, daratan Eropa baru saja porak-poranda akibat wabah mematikan *Black Death*. Cerita berpusat pada seorang petani sederhana yang berduka bernama Ploughman (Andrew Garfield). Setelah kehilangan seluruh keluarganya akibat wabah, Ploughman harus menghadapi kenyataan pahit bahwa para bangsawan dan penasihat Raja Richard II yang masih remaja (Woody Norman) justru mencekik rakyat jelata dengan pajak kepala (*poll tax*) yang kejam demi mendanai perang.

Ketidakadilan yang memuncak memaksa Ploughman bertransformasi menjadi pemimpin pemberontakan akar rumput. Bersama pendeta radikal John Ball (Jamie Bell) dan mantan prajurit tangguh Wat Tyler (Cosmo Jarvis), Ploughman memimpin ribuan buruh tani, pandai besi, dan rakyat jelata berbaris menuju London untuk menuntut keadilan langsung di hadapan sang raja.

Kontroversi Label "Robin Hood" yang Membingungkan

Sebelum rilis, The Uprising sempat terseret kontroversi pemasaran yang cukup ramai diperbincangkan. Pihak distributor Amerika Serikat sempat mempromosikan film ini seolah-olah merupakan kisah asal-usul legenda *Robin Hood*, dengan narasi bahwa Ploughman adalah sosok inspirasi di balik mitos perampok dermawan tersebut. Pemasaran ini sempat dikecam karena dinilai mereduksi peristiwa sejarah kelam 1381 menjadi sekadar cerita dongeng fiktif komersial.

Kenyataannya, The Uprising sama sekali bukan film petualangan petak-umpet di Hutan Sherwood. Film ini adalah drama politik-perang yang kotor, dingin, penuh lumpur, dan brutal, yang berusaha setia pada kepahitan perjuangan kelas pekerja pada abad ke-14.

Akting Totalitas Andrew Garfield Menyelamatkan Cerita

Daya tarik terbesar sekaligus penyelamat utama film ini adalah Andrew Garfield. Garfield membuktikan kapasitas aktingnya dengan menampilkan intensitas emosional dan fisik yang luar biasa sebagai Ploughman. Penonton dapat merasakan kepedihan mendalam dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya, namun tetap memegang teguh martabat moralnya saat berdiri di depan barisan rakyat bersenjatakan cangkul dan garpu rumput.

Interaksinya dengan Jamie Bell yang berapi-api dan Cosmo Jarvis yang garang memberikan dinamika kepemimpinan pemberontak yang meyakinkan. Sayangnya, naskah film ini terkadang terlalu terburu-buru dalam melompati intrik politik istana, sehingga sosok penasihat kerajaan terkesan sebagai tokoh antagonis satu dimensi tanpa motif yang kaya.

Gaya "Shaky Cam" Paul Greengrass: Realistis atau Bikin Pusing?

Bagi penggemar Paul Greengrass, ciri khas kamera genggam dinamis (*handheld shaky cam*) dengan potongan adegan super cepat (*rapid editing*) kembali hadir mendominasi. Saat diterapkan pada adegan bentrokan massa di jalanan sempit London abad pertengahan, gaya ini sukses menghadirkan rasa panik, debu, dan kekacauan pertempuran yang terasa sangat nyata layaknya liputan perang langsung.

Namun, di sisi lain, teknik ini menjadi pisau bermata dua. Bagi sebagian penonton bioskop, kamera yang terus berguncang di tengah pertarungan pedang dan kapak justru membuat koreografi laga sulit dinikmati dan memicu rasa pusing. Latar abad pertengahan yang kaya estetika visual terkadang kehilangan kemegahannya karena sudut kamera yang terlalu sempit dan bergerak liar.

Kelebihan dan Kekurangan

Mengapa Layak Ditonton:

  • Penampilan akting Andrew Garfield yang luar biasa kuat dan penuh dedikasi emosional.
  • Eksplorasi sejarah Pemberontakan Petani 1381 yang jarang diangkat ke layar lebar arus utama.
  • Penggambaran atmosfer abad pertengahan yang realistis, kelam, dan jauh dari kesan romantisasi.
  • Isu kesenjangan sosial dan pajak rakyat yang terasa sangat relevan dengan dinamika dunia modern.

Catatan Kritis:

  • Penggunaan kamera shaky cam yang terlalu ekstrem bisa mengganggu kenyamanan menonton.
  • Pengembangan karakter di sisi kerajaan terasa dangkal dan kurang dieksplorasi secara seimbang.

Kesimpulan

The Uprising (2026) bukanlah film perang abad pertengahan konvensional yang penuh glorifikasi kepahlawanan. Di balik kekurangannya pada teknik visual yang memecah belah selera penonton, film ini berhasil menyajikan potret perlawanan rakyat jelata yang mentah dan menggetarkan hati, dipimpin oleh penampilan akting kelas wahid dari Andrew Garfield.

The Uprising

The Uprising (2026)

⭐ 7.1/10 Movie Drama, Action, History 2j 8m

As war and plague devastate 14th-century England, a humble peasant ignites a rebellion, uniting an army of commoners to defy the King’s might in a desperate fight for justice and survival.

Lihat Detail